sex-education

Jakarta – Link – Pendidikan seks penting untuk mengenalkan anak identitas seksual secara biologis serta peran gendernya.

DR. Dr. Dharmawan A. Purnama, Sp.KJ mengatakan bahwa pendidikan seks bukan berarti mengajarkan anak hubungan seksual sejak dini.

“Pendidikan seks untuk anak itu mulai dari mengenalkan pemahaman tentang organ genital yang dimiliki anak secara biologis yang berbeda antara pria dan wanita, serta peran gendernya,” kata dr. Dharmawan kepada pantiasuhan-hidayah pada Minggu (16/7/2023).

Orangtua juga bisa menjelaskan siapa aja yang boleh pegang tubuhnya dan area-area intim privasinya.

“Kita harus mengajarkan secara biologis dasar, lalu peran gender yang benar. Kalau tidak mereka bisa belajar dari online yang tidak benar,” ujarnya.

Pelajaran tersebut perlu didapatkan anak dari orangtua sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anak, seperti yang dikutip dari Kementerian Kesehatan RI.

Kehadiran orangtua dalam memberikan pendidikan seks pada anak dapat membuat ia mengetahui bahwa orangtuanya dapat diajak berdiskusi seputar seksualitas.

Dengan edukasi seks yang diberikan sejak dini dari orangtua, anak dapat lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri secara seksual.

Jika pendidikan ini tidak didapatkan anak, tentu akan ada beberapa risikonya baginya.

Apa dampak anak tidak mendapatkan pendidikan seks sejak dini?

Dr. Dharmawan menuturkan bahwa ada kemungkinan besar anak sulit untuk bisa menghargai dirinya, bingung dengan batasan-batasan privasinya dan orang lain, serta bingung dengan gendernya, jika tidak diajarkan pendidikan seks sejak dini.

“Akibat tidak diberi edukasi seputar seksualitas sejak dini, anak bisa menganggap bahwa kontak fisik pada area intim hanya sekedar pertemuan antar mukosa saja (tanpa risiko),” ungkapnya.

Mukosa atau selaput lendir adalah lapisan kulit dalam yang basah dan berkontak dengan lingkungan eksternal.

Mungkin tanpa edukasi seks yang tepat, anak akan beranggapan pertemuan antara mukosa kelamin laki-laki dan perempuan tidak masalah, sama seperti orang berciuman.

“Jadi, anak tidak mendapatkan pengertian (perbedaannya). Apa bedanya itu anak jadi salah pemahaman, belum lagi dampaknya, misalnya kehamilan dan penyakit menular seksual,” ujarnya.

“Nah itu yang mesti diajarkan dalam pendidikan seksual untuk anak, bukan berarti kita mengajarkan kama sutra dengan beberapa macam posisinya,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *